juicekita

Pada ngaku Drinkers? Gabung disini!

Hari ini aku terbangun dan aku merasa cantik...


Lalu aku menyalakan televisi, dan seketika aku merasa sangat gemuk saat melihat sosok wanita yang bertebaran di kotak 21 inci. Merasa wajahku terlalu cokelat, berminyak, dan khwatir kalau ada jerawat lagi-lagi tumbuh di sana. Mungkin aku harus mencoba salah satu produk pemutih yang mampu mengurangi jerawat. Produk yang katanya mendapat penghargaan dari tahun-ketahun, cocok untuk kulit wanita Indonesia dan membeli susu yang mampu menunjang program dietku agar tubuhku tak lagi melebar. Agar aku tampil cantik seutuhnya.

Tak pelak lagi, televisi sudah menghancurkan imageku tentang kecantikan. Bahwa kecantikan dapat lahir dari dalam diri lewat pembawaan diri yang supel, cerdas, mampu menempatkan diri dan semua hal yeng berhubungan dengan inerbeauty. Konsep yang lenyap dalam sesaat karena kontruks yang dibangun hebat lewat televisi. Tak cukup cerdas dan menarik, tapi perempuan haruslah ‘sempurna’ secara fisicly.

Televisi menduduki posisi sentral dalam produksi dan reproduksi budaya promosi yang terfokus pada pemakaian citra visual untuk menciptakan merk dengan nilai tambah (Barker, 2000). Untuk menciptakan citra visual yang sempuna itulah iklan di televisi merepresentasikan sosok ‘perfect’, yang dalam hal ini terdapat pada diri wanita Barat atau paling tidak perempuan berwajah Indo. Hal ini memperkuat obsesi kolonial bahwa kulit putih adalah ideal. Dan seketika, menjadi putih sangat penting.

Sebagai bangsa yang hidup di masa kolonialisme yang sangat panjang dan terbelenggu dalam pascakolonial, segala sesuatu yang berhubungan dengan kulit putih (Barat/Penjajah) adalah norma. “Ras kulit putih” tidak ternamai karena putih adalah “bukan apa-apa, tetapi segalanya” (nothing but everything). Putih bukanlah warna tapi semua warna, karena itulah ke-putih-an merupakan simbol konvensional dari kebersihan, kemurnia, dan perdaban (Aquarini, 2003).

Dengan bergantung pada gagasan ke-putih-an (whiteness), berbagai iklan produk pemutih (lotion dan pelembab, sabun) hadir dan membetuk konstruksi kecantikan. Cantik adalah putih, tinggi semampai, dan langsing (jika tak dapat dikatakan kurus). Tidak hanya itu, pribumi (orang asli Indonesia) masih harus berada dalam strata paling rendah setelah bangsa Eropa dan Timur Asing, dalam hal kecantikan. Lihat saja bagaimana Pond’s, OLAY, dan Garnier, memajang wajah Barat (Kebaratan), sebagai ikon produknya. Atau masuknya produk Cina (Asia), seperti Tje Fuk dan Shi Zui, yang masih menampilkan kulit putih bersih tapi dengan mata khasnya.

Mungkin benar ada beberapa muka pribumi yang menjadi ikon kecantikan, seperti Dian Sastro Wardoyo yang digilai remaja dan Artika Sari Devi yang masuk jajaran lima belas besar Miss Univers, tapi jelas muka mereka yang katanya sangat Indonesia, tak mampu membendung konsep kecantikan global yang dengan cepat disebarkan melalui media televisi.

Tidak hanya iklan, televisi secara keseluruhan menampilkan wajah kebarat-baratan lewat sinetron, FTV, musik, berita, dan acara-cara lain yang kerap mengisi waktu kumpul keluarga. Tamara Bleszinsky, Sophia Latjuba, Nadine Chandrawinata, Jilie Estelle dan VJ Cathy (kakaknya), Dewi Sandra, sampai yang paling muda Cinta Laura, merupakan ikon kecantikan pada bidang dan zamannya masing-masing. Tak heran jika ada asumsi yang hadir putih dan cantik seakan menjadi jaminan ‘laku’ di negeri ini. Karena putih direpresentasikan sebagai sesuatu yang disukai, diinginkan dan ideal. Putih dan keputihan dimaknai sebagai kecantikan yang diidealkan dan dinaturalisasi, menjadi suatu fantasi yang harus dicapai.

Serupa Tapi tak Pernah Bisa Sama


Saat beranjak remaja, televisi merupakan salah satu sahabat terbaik yang menjawab hampir semua pertanyaan dan rasa penasaran. Tanpa sadar mereka (remaja) langsung berhadapan dengan realitas kecantikan bentukan pasar. Untuk menjadi cantik, mereka harus mengikuti trend yang sedang in di televisi. Sanksinya jika beda, predikat kuper, nggak gaul sampai nggak fashionable akan menempel dan membatasi gerak karena perasaan kurang PD. Tak heran, saat gaya harajuku sedang in, ramai-ramai remaja gaul bergaya harajuku di setiap kesempatan yang ada. Atau saat poni lempar dan celana model pinsil sedang nge-trend, dapat dipastikan mereka berganti model poni dan memakai calana model pinsil agar lebih fashionable.

Televisi, majalah, bilboard, merupakan pembentuk identitas baru. Penampilan supersempurna perempuan yang mengisi layar kaca, dimaknai oleh penonton yang tanpa sadar menimbulkan rasa kurang puas terhadap diri sendiri. Aku cantik maka aku harus kurus, aku cantik maka aku harus putih, aku cantik maka rambutku harus indah, ketika mendapati ada yang kurang pada diriku, maka dapat dikatakan aku tidak cantik. Begitu tidak netralnya tubuh perempuan, sampai untuk mendefinisikan ‘kecantikan’ ia patuh pada imajinasi laki-laki. Ia menjalankan perannya sebagai fokus tatapan mata dalam masyarakat patriarki. Dengan keyakinan itu, industri kecantikan dan gaya hidup memberikan ruang yang tak terbatas untuk menciptakan kecantikan.

Untuk itu kapital memelurkan ‘gap’ yang harus tetap terbuka agar kebutuhan untuk menyempurnakan diri (khususnya perempuan) selalu ada. Dengan adanya ‘gap’ putih-bukan putih, kurus-gemuk, ideal-tidak ideal, menuntut adanya penyempurnaan gambaran diri di masa depan. Dengan kategori cantik yang direpresentasikan televisi (media), keinginan diri untuk tampil lebih ‘cantik’ pun hadir. Keinginan untuk mengikuti atau meniru konsep kecantikan yang mengglobal, dilakukan dengan membeli produk pemutih, sedot lemak, operasi plastik, diet ketat dan cara-cara lain dianggap mampu menghasilkan kata ‘cantik’.

Almost the same but not not qiute begitulah Homi K. Bhabha menyebutnya. Keiginan untuk meniru hingga serupa tapi tak pernah bisa sama. Peniruan yang selalu berkiblat pada Barat, sebagai bangsa superior yang dianggap memiliki budaya tertinggi. Kulit cokelat atau sawo matang yang menjadi kulit khas orang Indonesia pun ‘dipaksa’ untuk menjadi lebih terang (karena tak dapat dikatakan putih). Tidak hanya itu, brand Gucci, LV, Prada, D & G, menjadi merk global yang melokal. Karena ketika barang asli dengan harga selangit tak mampu dibeli oleh mayoritas penduduk Indonesia yang pendapatannya masih ‘sangat rendah’, barang tiruannya pun hadir di berbagai pusat perbelanjaan grosir model ITC. Dengan memakai merk internasional, masyarakat Indonesia merasa bagian dari masyarakat kosmopolitan[1].

Peniruan gaya hidup orang Eropa (Barat), memang merupakan peniruan yang paling cepat dan mudah. Dengan meniru cara berpakaian, bersikap, pemilihan musik dalam berpesta ala Eropa memperlihatkan masyarakat dan kebudayaan Indonesia adalah masyarakat dan kebudayaan yang dibangun dalam konteks kolonial. Seperti konsep ke-putih-an yang merupakan elemen penting dalam kolonisasi yang dalam bentuk barunya menjelma menjadi globalisasi. Globalisasi juga membuka kemungkinan bagi budaya mimikri (meniru) dengan menyiratkan bahwa yang dianggap global dapat ditiru.

Naomi Wolf dalam bukunya Mitos Kecantikan yang terkenal, menuliskan, perempuan akan bebas dari mitos kecantikan ketika dapat memilih untuk menggunakan wajah, tubuh, dan pakaian sebagai salah satu bentuk yang paling sederhana dari ekspresi diri. Mitos kecantikan yang selama ini menjadi bumerang, tidak akan berarti apa-apa, karena perempuan sebenarnya memang cantik. Tak perduli berkulit cokelat atau agak gelap, bertubuh agak gemuk bahkan gemuk, atau memiliki tinggi dan berat yang tidak proporsional, selama masih nyaman dengan dirinya, dan tidak merasa gelisah, maka dia (perempuan) memang cantik.

Hari ini aku terbangun dan aku merasa cantik...


Tak peduli dengan televisi, sampul majalah ataupun bilboard yang memajang wajah putih dan tubuh kurus, aku tetap merasa cantik.


Novi Diah


*Dipublikasikan di Tabloid Transformasi UNJ ed. 44


Kepustakaan


Barker, Chris.2000. Cultural Studies:Teori dan Praktik. Terjemahan Nurhadi.


Yogyakarta: Kreasi Wacana



Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2003. Becoming White; Representasi Ras, Kelas,


Feminitas dan Globalisasi dalam Iklan Sabun. Yogyakarta: Jalasutra.





[1] Hebdige dalam Barker menganggap kosmopolitanisme sebagai aspek kehidupan sehari-hari di dunia Barat.


Share 

Comment

You need to be a member of juicekita to add comments!

Join this Ning Network

© 2009   Created by nico baruna on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service

Sign in to chat!