Saat ini belanja merupakan aktivitas rutin, trend tersendiri di kalangan kaum urban. Aku pusing maka aku shopping, aku gajian (punya uang) maka aku shopping, aku butuh refleshing maka aku shopping.
Seorang shopaholic seringkali belanja di luar kendali. Belanja pada saat tertekan dan menggunakan belanja sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Shopaholic tidak akan berhenti belanja karena mereka menemukan kenikmatan hidup dalam belanja. Apalagi sarana untuk membelanjakan uang pun tersebar di tiap kota-kota besar di Indonesia. Khususnya di Jakarta, pusat perbelanjaan hampir menghiasi tiap sudut strategis kota. Berbagai pilihan pun disediakan, bagi yang suka grosiran dengan harga relatif lebih murah bisa datang ke Cempaka Mas yang merakyat sampai Mangga Dua yang terkenal memiliki kualitas barang tiruan yang nyaris tak bisa dibedakan dengan aslinya. Tentu saja, barang-barang seperti Gucci, Prada, LV, D&G, dijual dengan harga jauh lebih murah. Pusat grosir pun menjadi pilihan alternatif di antara banyak mal yang menjual nama layak Matahari, Centro sampai Sogo.
Tumbuh suburnya pusat perbelanjaan, tak pelak berimbas pada budaya konsumerisme di kalangan masyarakat kota. Untuk membentuk citra modern dan
bergaya cosmopolitan, mereka mengonsumsi ‘budaya belanja’ sebagai salah satu pembentuk citra diri. Mal merupakan teman setia melepas penat, dari sekadar ngopi di Starbuck, nonton di Blizt atau jaringan bioskop 21, sampai mencari kebutuhan sehari-hari mulai dari sayuran, makanan, pakaian dari yang luar sampai yang dalam, semua dilakukan di mal.
Berbagai brand terkenal dalam dan luar negeri menjadi incaran para shopaholic. Hingga pada kala tertentu, mal menggelar sale sampai 75% -bahkan
ada yang memberikan diskon tambahan 20% lagi- hanya untuk menarik pengunjung yang kebanyakan wanita untuk membelanjakan uangnya. Tentu saja yang paling mencuri perhatian adalah produk fashion dari pakaian, sepatu (sandal), tas, sampai aksesoris tambahan. Pakaian yang bagus dan mahal (walau dibeli pada saat sale) akan memberikan prestise yang berbeda, karena sudah sejak awal pakaian merupakan ‘perpanjangan tubuh yang tidak saja menghubungkan tubuh dengan dunia sosialnya, tapi juga memisahkan keduanya’[i]
Cara berpakaian, merupakan ekspresi dari identitas seseorang karena saat memilih membeli pakaiannya (tanpa memperhitungkan harga), berarti kita
mendefinisikan dan mendeskripsikan diri sendiri. Pakaian menunjukan strata, penanda kelas sosial masyarakat. Di mana beli, berapa harganya, apa merk-nya menujukan tingkatan ekonomi dan status orang yang memakai pakaian tersebut. Karena itu kaum urban ‘kaya’ dapat dikenali dari pakaian mereka yang berbeda dan mahal yang merupakan bagian dari gaya hidup di mana identitas dibentuk melalui konsumsi.
Keputusan untuk membeli suatu produk dan bukan produk lain terkadang tidak berdasar pada masalah harga, namun lebih pada gaya dan ‘nilai budayanya’. Dalam
hal ini konsumsi merupakan proses aktif, dan produktif yang terkait dengan kesenangan, identitas dan pembuatan makna (representasi). Tentu kita akan merasa ‘lebih keren’ saat memakai sepatu merk Addidas ketimbang Bata, atau celana jeans Levi’s daripada Tira, karena merk tersebut merupakan jaminan kualitas dari harga yang orang tau pasti mahal.
Pasar global akan terus memproduksi barang ‘kebutuhan masyarakat’ dari segala lapisan. Mengeluarkan model terbaru untuk di pasarkan dan dibeli sebagai
pengganti barang lama yang sudah ketinggal mode (lawas). Fashion, ponsel, I-Pod, merupakan contoh barang yang akan ketinggalan zaman saat model baru diproduksi. Tak heran jika masyarakat memburu ponsel keluaran terbaru –yang tentu dilengkapi dengan fitur lebih canggih- sebagai barang yang saat ini disebut-sebut sahabat tebaik manusia.
Karena itu janganlah heran, jika di tengah krisis ekonomi, masyarakat kita tetap menjadi pengonsumsi masal, terlebih dihari-hari perayaan besar (lebaran, natal, tahun baru dll). Mal dan pusat perbelanjaan menjadi jantung perekonomian yang tak akan pernah berhenti (walau krisis ekonomi). Kita menjadi bangsa yang mengonsumsi besar-besaran produk yang diimpor dari luar. Bangsa yang hanya mampu menjual kulit binatang ke luar negeri dan membelinya kembali dalam bentuk yang lebih ‘gaya’ seperti tas, ikat pinggang ataupun aksesoris lain. Sebagai bangsa dunia ketiga yang menjual tenaga buruh pabrik (Nike, Reeboks, Addidas) dengan sangat murah dan membeli sepatunya yang berharga selangit. Harga satu sepatu yang melebihi gaji buruh yang membuatnya. Bangsa yang memperkaya produsen (Barat/negara dunia pertama), yang melakukan kolonisasi (penjajahan) melalui wajah baru, globalisasi.
Atas dasar itu maka tercetuslah ide untuk melakukan gerakan perlawan dengan sehari tanpa belanja (BUY NOTHING DAY). Sebuah ide sederhana yang lahir dari sikap kritis pada budaya konsumerisme dengan jalan mengajak kita untuk tidak belanja selama sehari. Hari Tanpa Belanja yang dilakukan tiap 26 November (ada juga yang merayakannya pada 27/28 November) ini dimulai sejak 1993 dan dicetuskan oleh Ted Dave pendiri Adbuster, salah satu organisasi nirlaba di Kanada yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kritis konsumen. Tujuannya pun sederhana, agar konsumen mempertanyakan produk-produk yang dibelinya dan perusahaan yang memproduksi, juga pengaruhnya terhadap lingkungan dan negara-negara ‘dunia ketiga’. Negara Barat mengonsumsi 80% sumber alam dunia dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Tidak hanya itu, banyak perusahaan besar menggunakan tenaga kerja di negara-negara berkembang (salah satunya Indonesia), dengan alasan murahnya tenaga kerja dan tidak adanya sistem perlindungan pekerja.
Ghandi pernah mengampayekan gerakan swadeshi dalam bentuk baju khadi sebagai suatu identitas tandingan bagi kekuasaan Inggris, dan memiliki komponen ekonomi yang kuat (anti-impor barang-barang Eropa). Sedang di Indonesia, sudah sejak awal, modernitas kolonial tampak sangat menyilaukan, hingga para tokoh pendiri bangsa seperti Soekarno lebih memilih setelan Barat dan mempercantik penampilan dengan sebuah peci hitam. Berpenampilan necis agar lebih dihargai dan diakui sebagai bagian masyarakat global.
Melihat sejarah pajang bangsa yang selalu berkiblat pada gaya hidup dan segala sesuatu yang behubungan dengan Barat, Hari Tanpa Belanja, tentu tidak akan mengubah gaya hidup kita dalam satu hari. Tidak mengunjungi mal untuk membeli barang-barang bermerk (apalagi buatan luar negeri), tidak makan di McDonald, Pizza dan sebangsanya, dan tidak menghabiskan waktu di bioskop jaringan 21, merupakan kegiatan yang bisa kita lakukan di Hari Tanpa Belanja. Mungkin kegiatan tersebut tidak akan mengubah pola hidup konsumerisme kita. Namun, lebih pada sebuah pengalaman unik untuk melakukan perubahan. Sebagai bentuk perlawanan (walau terbilang sangat kecil), dan sebuah tindakan sadar untuk tidak terjebak pada budaya konsumsi yang terus diciptakan oleh pasar.
No(Vie) Diah
Dipublikasikan dlm buletin KULTJER ed.2
Tags:
© 2009 Created by nico baruna on Ning. Create a Ning Network!
You need to be a member of juicekita to add comments!
Join this Ning Network